Memanusiakan Manusia : Seni Memimpin Ala Jokowi

· Ahok, Jokowi, News
Authors
Jokowi duduk bersama pedagang saat mengunjungi Pasar Kramat Jati

Partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas.Entah sudah berapa kali Jumono, aktivis Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan, memprotes hal tersebut pada pemerintah DKI lewat seminar-seminar yangdiikutinya.Pengalamannya selama ini, pemerintah DKI cenderung enggan bersikap transparan meski telah ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik.“Informasi hanya ala kadarnya, padahal kami perlu tahu detail sebagai bentuk pengawasan” keluhnya.

Pola pikir birokrat dan pemimpin, inilah yang kemudian dipersalahkan oleh Jumono.Menurutnya, ketidaktegasan pemimpin yang tidak berani turun ke lapangan, sehingga kemacetan birokrasi di lapangan tidak dapat diminilisir. “(Gubernur,-red), sebagai pemilik kewenangan tertinggi harus punya respon, jangan cuma diserahkan pada sistem dibawahnya karena akan macet.” tuturnya.

Pendapat Jumono ini dibenarkan Iwan Gardono, Ahli Sosiologi Politik Universitas Indonesia (UI).Penciptaan sistem birokrasi yang transparan dan melayani, sehingga bebas dari praktek korupsi, memang harus dimulai dari tingkat pejabat tinggi.“Pemimpin harus berani memberi hukuman untuk bawahannya, termasuk untuk memberhentikannya karena mindset harus berani menggebrak,” ujarnya.

Kesempatan mendapat pemimpin seperti inilah yang muncul untuk warga DKI pada tahun 2012 ini. Joko Widodo, salah seorang calon Gubernur sekarang, memiliki rekam jejak yang mumpuni dalam membersihkan birorasi. Awal memimpin Solo, tujuh tahun yanglalu, reformasi birokrasi yang dilakukan Jokowi memakan korban tiga orang lurah, satu camat, dan satu kepala dinas harus lengser dari jabatannya.  “Untuk kemajuan birokrasi memang harus ada ketegasan.” kata Jokowi.“Dan orang yang dicopot, memang tidak ada keinginan untuk melayani, kelihatan tidak ada niat.” tukasnya tegas.

Menurut Jokowi, perlakuan pemimpin pada birokratnya sendiri dengan ke masyarakat haruslah dibedakan. “Birokrat kita harus direformasi, dibuatkan sistem yang dilengkapi dengan ketegasan sehingga mampu melayani.” terangnya.“Sedangkan masyarakat tidak boleh dikerasi. Sebagai pelayan, tugas pemerintah termasuk penataan kota,harus dilakukan dengan cara yang manusiawi dan memanusiakan.” lanjut Jokowi.

Tidak sekedar retorika, Jokowi membuktikan dengan tindakan nyata. Lebih dari 5.800 pedagang kaki lima telah direlokasi oleh Jokowi ke tempat baru untuk mengembalikan fungsi tata ruang kota. Dan menariknya, itu semua dilakukan tanpa kekerasan sedikitpun, melainkan dengan membangun komunikasi dengan para pedagang tersebut.“Kami makan siang, makan malam, sampai 54 kali.Kami ingin masyarakat benar-benar percaya, kami sedang melakukan yang terbaik untuk semua.Bukan kepentingan salah satu pihak saja.” ungkapnya.

Menurut Hamdi Muluk, Ahli Psikologi Politik UI,  gaya kepemimpinan Jokowi inilah yang dibutuhkan oleh Jakarta saat ini. Hal itu terlihat oleh riset yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik dan The Cyrus Network, yang hasilnya menunjukkan Jokowi sebagai tokoh yang paling paling berkualitas dan kredibel untuk  memimpin Jakarta. Hamdi juga menjelaskan,gaya kepemimpinan Jokowi ini disebut dengan kepemimpinan otentikdan melayani. “Karena konsep-konsep dari Jokowi sebenarnya bukan hal baru.Perbedaannya, dia betul-betul melakukannya.Tanpa banyak basa-basi, dia mau ngerjain,” tandas Hamdi.(hmp/wira)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: